EKTIVITAS DENTAL CARE SERIES DISERTAI DEMONSTRASI TERHADAP KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT ANAK USIA 5-6 TAHUN
EFEKTIVITAS
DENTAL CARE SERIES DISERTAI DEMONSTRASI TERHADAP KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT ANAK
USIA 5-6 TAHUN
¹ Baiq Mutiya Hurun Nisa
(Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Mataram)
² Nezza Salwani (Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Mataram)
³ Fitri Hadi Hapsari (Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Mataram)
⁴ Dina Pratami (Biologi,
Fakultas MIPA, Universitas Mataram)
⁵ Faizatul Aini (Biologi,
Fakultas MIPA, Universitas Mataram)
*E-mail: baiqmutiyahuruunisa@gmail.com
Corresponding Author: Takasun,
S.Pd. (WA: +62 878-6443-3734)
ABSTRAK
Kegiatan
pengabdian masyarakat bertajuk “Efektivitas Dental Care Series disertai
Demonstrasi (Pop-Up Book dan Game Scandys) terhadap Kebersihan Gigi dan Mulut
Anak Usia 5–6 Tahun” dilaksanakan pada beberapa TK di wilayah Kota Mataram,
NTB, dengan tujuan menguji dampak penggunaan media edukatif berbasis visual dan
permainan terhadap keterampilan menyikat gigi anak usia dini. Kegiatan berjalan
sesuai rencana dan memperoleh dukungan institusional yang baik. Efektivitas
intervensi diukur melalui gain skor ternormalisasi, yang menunjukkan nilai
33,2% dan dikategorikan sebagai peningkatan sedang, sehingga mengindikasikan
adanya pengaruh positif namun moderat dari media yang digunakan. Analisis pada
tingkat individual menunjukkan konsistensi peningkatan kemampuan anak dalam
mengenali alat kebersihan gigi, memahami urutan tindakan menyikat gigi, serta
menerapkannya secara lebih terstandar. Media Pop-Up Book terbukti meningkatkan
pemahaman konseptual melalui representasi visual konkret, sedangkan Game
Scandys memfasilitasi proses belajar yang lebih responsif dan berorientasi
pengalaman melalui mekanisme permainan. Secara keseluruhan, kombinasi kedua
media ini dapat dikonstruksi sebagai intervensi edukatif yang efektif dan layak
direplikasi dalam program peningkatan kesehatan gigi anak usia prasekolah.
Kata
kunci:
Pop-Up Book, Game Scandys, kebersihan gigi, anak usia dini, gain skor.
ABSTRACT
The community service
activity entitled “Effectiveness of Dental Care Series Accompanied by
Demonstration (Pop-Up Book and Scandys Game) on Oral Hygiene of Children Aged
5–6 Years” was conducted in several kindergartens in Mataram City, West Nusa
Tenggara, aiming to evaluate the impact of visual- and game-based educational
media on young children’s toothbrushing skills. The program was implemented as
planned and received strong institutional support. Intervention effectiveness
was measured using normalized gain scores, yielding a value of 33.2%,
classified as a moderate improvement, indicating a positive but moderate effect
of the media employed. Individual-level analysis showed consistent improvement
in children’s ability to recognize dental care tools, understand the correct
sequence of brushing, and perform it in a more standardized manner. The Pop-Up
Book effectively enhanced conceptual understanding through concrete visual
representation, while the Scandys Game facilitated a more engaging and experiential
learning process. Overall, the combination of these two media can be considered
an effective educational intervention and is recommended for replication in
programs aimed at improving oral hygiene among preschool-aged children.
Keywords: Pop-Up
Book, Scandys Game, oral hygiene, early childhood, gain score.
PENDAHULUAN
1.1 Pentingnya Pendidikan Kesehatan Gigi
Dan Mulut Anak Usia Prasekolah
Berdasarkan data The Global Burden of Disease Study
2016 yang dikutip Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, masalah kesehatan
gigi dan mulut khususnya karies gigi merupakan penyakit yang dialami hampir
dari setengah populasi penduduk dunia sebanyak 3,58 miliar jiwa (Kementerian Kesehatan
RI, 2019). Karies gigi masih menjadi salah satu
masalah yang paling umum terjadi pada masyarakat Indonesia. Pada anak usia
prasekolah, pemeliharaan kesehatan gigi mereka masih bergantung kepada orang
tua. Awal pertumbuhan gigi merupakan proses penting dari pertumbuhan seorang
anak. Sebagai orang terdekat dengan anak, orang tua harus mengetahui cara
merawat gigi dan membimbing anaknya cara menyikat gigi yang baik dan benar.
Sekalipun masih memiliki gigi susu, seorang anak harus mendapatkan perhatian
yang serius dari orang tuanya karena gigi susu akan mempengaruhi pertumbuhan
gigi permanen anak. Akan tetapi, banyak orang tua yang beranggapan bahwa gigi
susu bersifat sementara dan akan digantikan oleh gigi permanen, sehingga mereka
sering menganggap bahwa kerusakan gigi susu akibat oral hygiene yang
buruk seringkali tidak menjadi masalah (Christian Rompis ,
Damajanty Pangemanan, 2016; Enuru Khasanah, 2016).
Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan oleh (Septia et al., 2016), sepuluh
dari tiga puluh orang tua yang mempunyai anak pra sekolah masih memiliki
persepsi yang salah mengenai masalah karies gigi pada gigi susu anaknya. Peran
orang tua sangat penting dalam mendasari terbentuknya perilaku yang mendukung
kebersihan gigi pada anak sehingga kesehatan gigi anak dapat terjaga dengan
baik. Kesehatan gigi susu sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan
pertumbuhan gigi permanen, sehingga peran
orang tua sangat penting dalam membimbing, memberikan perhatian,
mengingatkan dan menyediakan fasilitas kepada anak agar dapat memelihara
kebersihan giginya (Husna, 2016; Monica Irvania Gustabella, 2017).
Pendidikan kesehatan gigi perlu diperkenalkan kepada anak sedini mungkin agar
mereka mengetahui cara menjaga kesehatan gigi. Orang tua juga harus berperan
dalam memantau kebersihan gigi anaknya dengan mengajarkan teknik menyikat gigi
yang benar (Ghofur, 2012).
1.2 Penyuluhan Dental Care Series
(DCS) Disertai Demonstrasi Menyikat Gigi Sebagai Penerapan (SDGs) 2030 Nomor 3
Pendidikan kesehatan gigi dan mulut adalah suatu proses
pendidikan yang bertujuan untuk mencapai kesehatan gigi yang baik dan
meningkatkan taraf hidup berdasarkan kebutuhan kesehatan gigi dan mulut. Dalam
menempuh pendidikan dan pengajaran, individu memperoleh pengalaman dan
pengetahuan melalui berbagai macam alat bantu pendidikan. Setiap alat mempunyai
intensitas yang berbeda-beda dalam membantu persepsi seseorang. Menurut Elgar
Dale (dalam Notoatmodjo,
2010), "demonstrasi" tergolong
alat bantu atau alat peraga yang memiliki intensitas tinggi dalam
mempersepsikan pengajaran atau bahan Pendidikan. Sebaliknya, pendidikan
kesehatan gigi dan mulut yang disampaikan hanya dengan kata-kata memiliki
persepsi intensitas pendidikan yang paling rendah. Penggunaan alat bantu
pembelajaran berintensitas tinggi akan memudahkan penyerapan pengetahuan,
demikian halnya pendidikan kesehatan gigi dan mulut anak yang disertai alat
bantu atau demonstrasi menyikat gigi.
Pendidikan merupakan faktor
sosial ekonomi yang mempengaruhi status kesehatan (Basuni & Cholil, 2014). Dental Care Series (DCS) merupakan
media pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut
dengan menggunakan media edukasi yang tersedia. Hal ini sesuai dengan
pernyataan (Puspitaningtiyas et al., 2017) bahwa
media pembelajaran merupakan alat bantu dalam proses pengajaran yang melibatkan
banyak indera, yang lebih mudah diterima dan diingat oleh orang. Upaya
peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan gigi melalui kegiatan
penyuluhan merupakan salah satu upaya pencegahan masalah kesehatan gigi dan
mulut. Program penyuluhan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan
kesadaran masyarakat agar dapat berpartisipasi dan aktif dalam meningkatkan
kesehatannya (Nurhidayat, 2012).
Pada umumnya
ada dua jenis metode penyuluhan yang dapat digunakan yaitu metode didaktik (one
way method) dan metode sokratik (two way method) (Ali, 2016). Dalam
penelitian ini dipilih metode sokratik. Metode ini dipilih karena dapat
digunakan dalam memberikan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada anak usia
5-6 tahun. Teknik yang digunakan adalah demonstrasi. Sehingga, materi yang
disajikan dapat memperlihatkan cara melakukan tindakan dengan tujuan
mengajarkan seseorang atau siswa bagaimana melakukan suatu tindakan (Ilyas et
al., 2012).
Menurut
Bahar (dalam
Abdullah, 2010), salah satu
faktor terpenting yang mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut adalah perilaku.
Perilaku sangat dipengaruhi oleh pengetahuan (Astuti,
2020). Perilaku berdasarkan
pengetahuan yang benar akan bertahan lebih lama daripada perilaku tanpa
pengetahuan. Termasuk pengetahuan tentang menjaga kesehatan gigi yang baik,
yang berdampak signifikan pada masalah kerusakan gigi. Upaya untuk meningkatkan
pengetahuan dilakukan dengan penyuluhan kesehatan. Penyuluhan dengan berbagai
sasaran lebih ditekankan pada kelompok rentang anak usia 5-6 tahun, karena masa
ini merupakan masa “Golden Age Period” artinya masa emas untuk seluruh
aspek perkembangan manusia yang mengalami peningkatan sampai 50% (Martani,
2012; Notoatmodjo, 2005).
Berdasarkan permasalahan
yang telah dijabarkan, diketahui bahwa permasalahan penelitian ini adalah
“Apakah penyuluhan Dental Care Series disertai demonstrasi (pop-up
book dan game scandys (shooter candys)) efektif terhadap
kebersihan gigi dan mulut anak usia 5-6 tahun”. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui efektivitas penyuluhan Dental Care Series pada anak
usia 5-6 tahun di tiga Taman Kanak-Kanak di wilayah Kota Mataram, Nusa Tenggara
Barat sebagai upaya meningkatkan kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia
dalam menerapkan rencana aksi global Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 nomor 3, yaitu menjamin kehidupan yang
sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang disegala usia.
METODE
PELAKSANAAN
2.1
Profil Dental
Care Series
Mahasiswa
Biologi FMIPA Universitas Mataram telah menyelenggarakan kerjasama dengan Taman
Kanak-Kanak di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat yaitu, TK Kartini. Kerjasama
dilakukan dalam kegiatan pendampingan penyuluhan “Efektivitas Dental Care
Series Disertai Demonstrasi (Pop-Up Book dan Game Scandys (Shooter
Candys)) Terhadap Kebersihan Gigi Dan Mulut Anak Usia 5-6 Tahun”. Kegiatan
ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman anak usia 5-6 tahun mengenai
pentingnya oral health, meningkatkan kebiasaan oral hygiene (self-care),
menjaga kesehatan gigi dan mulut sebagai upaya mengatasi masalah kesehatan gigi
dan mulut khususnya karies gigi pada anak.
Dental Care Series adalah kegiatan penyuluhan mengenai perilaku menjaga kesehatan gigi dan
mulut serta praktik langsung dengan program sikat gigi menggunakan media Pop-Up
Book dan Game Scandys (Shooter Candys)
sebagai alat bantu penyuluhan. Kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan oleh
Baiq Mutiya Hurun Nisa sebagai ketua dan Neza Salwani, Fitri Hadi Hapsari, Dina
Pratami, Faizatul Aini sebagai anggota, dalam rangka menyelesaikan tugas mata
kuliah Pendidikan Agama Prodi Biologi FMIPA Universitas Mataram. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode Sokratik (two way method),
yaitu metode yang dilakukan melalui komunikasi dua arah antara anak didik
dengan pendidik/peneliti. Salah satu teknik dalam metode Sokratik yang cocok
untuk pendidikan kesehatan gigi dan mulut bagi anak prasekolah adalah
demonstrasi. Saat tahap demonstrasi, materi digunakan dengan menunjukkan
bagaimana cara melakukan suatu tindakan atau prosedur diikuti dengan membacakan
Pop-Up Book dan bermain game Scandys bersama sebagai penutup
kegiatan.
2.2 Konsep Kreatif Perancangan dan Perencanaan Media Demonstrasi
Perancangan berarti proses
atau cara pembuatan dalam mengatur segala sesuatu atau merencanakan sesuatu.
Seperti telah dibahas pada bab sebelumnya bahwa akan dirancang Pop-Up Book
dan Game Scandys (Shooter Candys) sebagai
media pembelajaran kesehatan gigi dan mulut untuk anak usia 5-6 tahun. Pop-Up
Book dan game dipilih sebagai media utama pembelajaran dikarenakan dapat
memberikan hiburan tersendiri bagi anak-anak. Selain itu dapat mengasah
perkembangan motorik anak dimasa tumbuh kembangnya.
1. Pengenalan Menyikat Gigi pada Anak
dengan Media Game Scandys (Shooter Candys)
Merawat gigi agar tetap bersih dan sehat merupakan
hal yang penting dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Perawatan gigi sejak
dini dinilai sangat penting untuk mencegah proses kerusakan gigi seperti gigi
berlubang, keropos, dan pembengkakan pada gusi. Salah satu dampak yang
ditimbulkan dari kerusakan gigi pada anak adalah perubahan bentuk mulut dan
tatanan gigi pada saat anak beranjak dewasa nanti. Selain itu, anak juga sulit
mencerna makanan sehingga proses tumbuh kembangnya terganggu dan anak mudah
terserang penyakit (Haluan,
2014).
Pengenalan cara menjaga kesehatan gigi anak juga
dapat dilakukan dengan memanfaatkan peran multimedia salah satunya melalui
permainan. Berdasarkan hal tersebut maka lahirlah ide untuk memperkenalkan
kesehatan gigi anak terutama cara menyikat gigi dengan menggunakan game
“Scandys” atau shooter candys, ‘Shooter’ artinya penembak dan ‘Candys’
berarti 'permen', game ini memberikan pesan dari ilustrasi pada assets
game yang digunakan bahwa makanan yang memiliki kandungan gula berlebih
bisa membahayakan kesehatan gigi. Diharapkan permainan ini dapat mengajarkan
anak-anak tentang kesehatan gigi khususnya kebiasaan menyikat gigi.
2. Perancangan dan Perencanaan Media Game
Scandys (Shooter Candys)
Dewasa ini kemajuan teknologi sangat berperan besar
dalam dunia pendidikan, salah satunya adalah multimedia. Multimedia telah
digunakan di banyak bidang seperti bisnis, pendidikan, hiburan dan berbagai
keperluan umum lainnya. Khususnya dalam bidang pendidikan, multimedia saat ini
memegang peranan yang sangat penting yaitu untuk memperkaya dan memajukan
proses pembelajaran (Nurhadi,
2014). Permainan
(game) adalah sebuah sistem pemainnya terlibat dalam suatu konflik
buatan yang ditentukan oleh aturan, dan dapat menghasilkan keluaran atau hasil
yang dapat diukur. Di akhir dari sebuah game, seorang pemain akan menang
atau kalah dan biasanya akan menerima skor numerik (Salen,
Katie, and Zimmerman, 2004). Permainan
atau game merupakan bentuk multimedia yang biasa digunakan oleh guru
dalam pembelajaran khususnya untuk anak-anak. Game adalah salah satu
produk teknologi yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran alternatif dan
mengingat materi pembelajaran (Setyaningsih,
2010).
Pembelajaran berbasis game lebih disenangi kalangan anak-anak, tanpa
menghilangkan esensi ilmu yang ingin disampaikan (Burhani,
2014).
Game edukasi yang berkembang
saat ini merupakan aplikasi yang dapat digunakan dengan mudah dengan smartphone
berbasis Android. Banyak kemudahan yang didapatkan dengan adanya android ini,
salah satunya dapat digunakan untuk membuat game edukasi dengan software
construct. Construct merupakan alat pengembangan game
berbasis HTML5 untuk game 2D yang dikembangkan oleh Scirra Ltd. Construct
mengungkapkan pernyataan bahwa membuat game tanpa memiliki pengetahuan
pemrograman karena construct tidak memerlukan bahasa pemrograman. Construct
memiliki 2 versi yaitu construct 2 dan construct
3. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua versi tersebut. Jika
ingin menggunakan construct 2 perlu menginstalnya di komputer, sedangkan
construct 3 dapat berjalan offline di browser. Dalam
proses pembuatan aplikasi untuk mendukung Perancangan Aplikasi Edukatif dengan
tema kesehatan gigi untuk anak umur 5-6 Tahun ini dibutuhkan beberapa Software
sebagai berikut:
Gambar 1. Construct 3, Javascript, dan HTML5
Cara kerja construct 3 secara sederhana dengan menambahkan objek
dan memberikan sifat atau kepribadian pada objek tersebut. Langkah selanjutnya
menambahkan logika permainan conditions and action. Misalkan jika
pemain menabrak, atau melewati suatu objek maka bisa mati atau permainan dapat
dilanjutkan. Cara kerja construct 3 cukup mudah karena tanpa membutuhkan
bahasa pemrograman yang rumit seperti drag and drop. Construct
3 tersedia dalam dua versi, gratis (free trial) dan berbayar. Construct
3 gratis akan dibatasi sampai 40 event sheet setiap layout.
Gambar 2. Free Trial Construct 3
Setelah mengunduh Construct 3 versi gratis maka langkah
selanjutnya adalah menyiapkan Assets Game yang digunakan pada game
edukasi Scandys Berikut ini beberapa Assets Game yang digunakan:
Gambar 4. Assets Games Scandys
Setelah assets sudah lengkap, selanjutnya buka software
dari construct 3 lalu pilih New Project, setelah itu akan diarahkan
untuk memberikan detail project properties yang akan dibuat
seperti orientasi dan size layout project game
edukasi Scandys seperti gambar berikut.
Gambar 5. Layout Construct 3
Gambar 6. New Project
Lembar kerja Construct 3 terdiri dari event sheet dan layouts. Untuk
menambahkan object atau assets berada pada lembar kerja layout,
sedangkan untuk membuat action menggunakan event sheet. Pertama
akan menambahkan asset dengan klik kanan lalu pilih insert new object
akan muncul object type (Gambar 12.) yang bisa dipilih sesuai
kebutuhan. Pertama akan menambahkan background dari game dan pilih object
type sprite lalu insert maka muncul seperti Gambar 11.
Gambar 7. Object Type Gambar 8.
Animation Karakter
Semua assets game
edukasi Scandys dimasukkan ke dalam construct 3 sesuai dengan layout
dari rancangan sebelumnya. Dalam game edukasi Scandys ini total terdapat
1 layout dan 7 event sheet.
Export game dengan construct 3 dengan cara tekan tombol Menu – Project
– klik Export yang terlihat seperti pada gambar 17. Klik Export
maka akan muncul box keterangan untuk memilih platform export dan
pilih HTML5, dan sekarang game Scandys sudah bisa dimainkan.
Gambar 9. Event Sheets
Gambar 10. Platform To Export Gambar 11. Export Game
Gambar 12. Game Scandys sudah dapat
dimainkan
3. Konsep Kreatif Perancangan dan
Perencanaan Media Pop-Up Book
Pada perancangan Pop-Up Book
bertema kesehatan gigi dan mulut ini pada ilustrasinya akan digunakan gaya
kartun. Gaya kartun umumnya disukai oleh anak-anak, sehingga dapat meningkatkan
minat baca mereka. Pewarnaan menggunakan warna-warna yang mencolok, agar dapat
menarik perhatian anak-anak dan dapat memberikan suasana yang ceria pada
cerita. Bahasa yang digunakan merupakan bahasa yang sederhana dan mudah
dipahami oleh anak usia 5-6 tahun. Materi yang dimasukkan dalam buku
disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak usia pra sekolah dalam menerima
pelajaran. Pada Pop-Up Book Dental Care Series ini penulis memberikan
judul “Si Anjani Sakit Gigi” untuk series pertamanya.
Dalam buku tersebut terdapat empat tokoh yaitu Anjani, Mandalika, Panji, dan
Gangga. Penamaan tokoh dalam cerita tersebut diambil dari nama putri atau raja
yang ada pada cerita dongeng khas Lombok, NTB. Tokoh Mandalika diambil dari
nama putri pasangan Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting, tokoh Anjani yang
berarti Dewi Anjani dari sebuah kisah legenda Gunung Rinjani di Lombok, tokoh
Panji yang juga diambil dari kisah Putri Mandalika yang merupakan nama lain
dari raja di kerajaan Sekar Kuning yakni Raden Panji Kusuma, sedangkan tokoh
Gangga namanya diambil dari sejarah Datu (Raja) Gangga di Lombok Utara.
Gambaran selengkapnya mengenai visualisasi karya Pop-Up Book Series 1
“Si Anjani Sakit Gigi” dapat dilihat pada bagian lampiran.
Gambar 13. Empat Tokoh Pop-Up Book Series 1
“Si Anjani Sakit Gigi”
2.3 Metode
Penelitian
Penelitian
ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain Quasi Experimental.
Teknik yang digunakan adalah total sampling. Analisis yang digunakan adalah uji
wilcoxon untuk mengetahui pengaruh dari pendidikan kesehatan terhadap
praktik menggosok gigi. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Taman Kanak-Kanak
di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat yaitu TK Kartini. Sampel dalam penelitian
ini adalah murid kelas TK B (usia 5-6 tahun) yang berjumlah 12 orang. Waktu
penelitian dilaksanakan pada tanggal 27 bulan November 2025. Penelitian ini dilakukan selama satu hari.
Intervensi diberikan 2 kali, pretest dilakukan pada awal pertemuan
sebelum diberikan intervensi dengan mengukur praktik menggosok gigi yang
diobservasi oleh peneliti. Setelah diberikan pretest kemudian diberikan
lagi intervensi praktik menggosok gigi dengan Pop-Up Book sebagai
medianya, kemudian pada akhir pertemuan dilakukan posttest dengan
mengobservasi praktik menggosok gigi yang dinilai oleh peneliti.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
|
Frekuensi (f) |
|
|
5 |
5 |
|
6 |
7 |
|
Total |
12 |
Tabel 1 menunjukan bahwa sebagian besar responden
berusia 5 tahun. sebanyak 12 responden. Usia 5-6 tahun merupakan usia kritis
terjadinya karies gigi, selain karena masa transisi pergantian gigi susu
menjadi gigi tetap anak-anak juga cenderung menyukai makanan yang manis dan
lengket yang dapat menyebabkan karies gigi (Khairina et al.,
2018). Pada usia tersebut
lebih tertarik pada makanan yang berbahan pemanis sukrosa yang apabila
dikonsumsi terus menerus dapat menyebabkan kerusakan pada gigi. Kuesioner anak
diberikan menggunakan papan permainan bergambar mulut disertai sikat gigi
buatan agar menarik perhatian anak. Pada intervensi pretest anak-anak
akan diberikan waktu untuk menyikat gigi pada papan permainan untuk mengukur
sejauh mana pengetahuan anak dalam menyikat gigi sesuai dengan urutannya yang
baik dan benar, sama halnya pula dengan posttest. Berikut ini hasil
pengisian yang memperlihatkan perbedaan antara sebelum dan setelah
dilaksanakannya penyuluhan kesehatan gigi dan mulut menggunakan demonstrasi dan
alat bantu.
|
Kategori |
Rentang Skor |
Sebelum |
Sesudah |
|||
|
Frekuensi |
% |
Frekuensi |
% |
|||
|
1
|
BSB (Berkembang Sangat Baik) |
76-100 % |
8 |
|
10 |
|
|
2
|
BB (Belum Berkembang) |
< 40% |
4 |
|
2 |
|
Grafik 1. Grafik Perbandingan Kemampuan
Menggosok Gigi Anak
Berdasarkan tabel perbandingan sebelum dan sesudah
perlakuan di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar anak yang telah diberikan
penyuluhan kesehatan gigi dan mulut dengan Pop-Up Book dan Game
Scandys mengalami peningkatan. Anak yang awalnya berada pada kategori BSB
sebanyak 8 orang anak dengan presentase 66,7%, anak dengan kategori BB sebanyak
4 anak dengan presentase 33,3%. Kemudian terjadi peningkatan menjadi anak yang
berada pada kategori BSB sebanyak 10 orang anak dengan presentase 83,3%, anak
dengan kategori BB sebanyak 2 anak dengan presentase 16,7%.
KESIMPULAN
DAN SARAN
Berdasarkan hasil kegiatan
pengabdian masyarakat “Efektivitas Dental Care Series disertai
Demonstrasi (Pop-Up Book Dan Game Scandys (Shooter Candys))
terhadap Kebersihan Gigi dan Mulut Anak Usia 5-6 Tahun” yang telah dilakukan di
TK di wilayah Kota Mataram, NTB pada anak usia prasekolah, maka dapat
disimpulkan bahwa kegiatan yang dilakukan berjalan dengan lancar dan sesuai
dengan yang diharapkan. Pada penelitian ini pengaruh penggunaan demonstrasi Pop-Up
Book dan Game Scandys (Shooter Candys) terhadap kemampuan
menggosok gigi yang baik dan benar pada anak usia 5-6 tahun dapat diketahui
dengan cara menghitung gain skor ternormalisasi dengan hasil 33,2% yang
termasuk pada kategori sedang. Hal ini dikarenakan penggunaan demontrasi
sebagai alat bantu pendidikan yang menarik dan kreatif dalam proses
pembelajaran membuat anak tidak jenuh. Hasil ini juga didukung dengan hasil
analisis individual, yakni rata-rata setiap anak didik penelitian mengalami
peningkatan, walaupun peningkatan tersebut bervariasi
UCAPAN
TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang
telah memberi dukungan terhadap pengabdian masyarakat ini yaitu pihak TK
Kartini yang telah membantu pendampingan penyuluhan program dalam rangka menyelesakan
tugas mata kuliah Pendidikan Agama Prodi Biologi FMIPA Universitas Mataram.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdullah, S. (2010). Efektifitas
Penyuluhan Kesehatan Gigi dengan Media Poster dan Leaflet Terhadap Peningkatan
Pengetahuan, (online),.
Astuti, M. F. (2020). Hubungan
Prilaku Kesehatan Gigi Dengan Kejadian Karies Gigi Pada Anak Di Kelurahan Pasar
Baru Kecamatan Sei Tualang Raso Kota Tanjung Balai Tahun 2020. 3,
26–31. Retrieved from
http://ocwus.us.es/metodos-de-investigacion-y-diagnostico-en-educacion/analisis-de-datos-en-la-investigacion-educativa/Bloque_II/page_26.htm
Christian Rompis ,
Damajanty Pangemanan, P. G. . (2016). Hubungan tingkat pengetahuan ibu
tentang kesehatan gigi anak dengan tingkat keparahan karies anak TK di Kota
Tahuna. e-GIGI. Retrieved from http://doi.org/10.35790/eg.4.1.2016.11483
Enuru Khasanah, B. P.
(2016). Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Kesehatan Gigi Mulut
Dan Keparahan Karies Anak Balita [Internet]. Universitas Gadjah Mada.
Retrieved from http://etd.repository.ugm.ac.id/home/detail_pencarian/97208
Ghofur, A. (2012). Buku
Pintar Kesehatan Gigi dan Mulut. Yogyakarta: Mitra Buku.
Haluan, H. (2014). Rawatlah
Gigi Sejak Dini. Issuu.Com. Retrieved from http://issuu.com/haluan/
Husna, A. (2016).
Peranan orang tua dan perilaku anak dalam menyikat gigi dengan kejadian karies
anak. J Vokasi Kesehat. Retrieved from
http://ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id/index.php/JVK/article/view/49
I terhadap penurunan
indeks plak gigi pada murid sekolah dasar Effect of demonstration method
counseling on brushing teeth to the decreasing of plaque value of elementary
school students. Journal of Dentomaxillofacial Science, 11(2),
91. doi: 10.15562/jdmfs.v11i2.302
Kementerian Kesehatan
RI. (2019). Situasi Kesehatan Gigi dan Mulut 2019. Retrieved from
https://www.kemkes.go.id/article/view/20030900005/situasi-kesehatan-gigi-dan-mulut-2019.html
Khairina, &
Efendi, J. (2018). Efektivitas Role Playing Untuk Mengurangi Perilaku
Agresif Anak dengan Gangguan Perilaku. Jurnal Penelitian Pendidikan Kebutuhan
Khusus. Retrieved from
http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu/article/view/101677/100636
Martani, W. (2012). Metode
Stimulasi dan Perkembangan Emosi Anak Usia Dini. Retrieved from doi:
10.22146/jpsi.6970
Monica Irvania
Gustabella, S. A. A. R. W. (2017). Pengetahuan dan tindakan pemeliharaan
kesehatan gigi dan mulut pada ibu yang memiliki anak usia bawah tiga tahun
Knowledge and practice of oral health maintenance in mothers with under
3-years-old children. J Kedokteran Gigi Univ Padjadjaran. Retrieved from
https://doi.org/10.24198/jkg.v29i1.18601
Notoatmodjo, S.
(2005). Cara Memperoleh Pengetahuan, (online).
Septia, N. C., &
Kustantiningtyastuti, D. (2016). Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang Tua
Dengan Status Kebersihan Gigi Dan Mulut Anak Tuna Rungu Usia 9-12 Tahun Di SLB
Kota Padang. Andalas Dent J. Retrieved from
https://doi.org/10.25077/adj.v4i2.57
Berikut terlampir link google drive
dokumentasi kegiatan: https://drive.google.com/drive/folders/10xKd4meGyY8k-0Ce2J6zjFHRcs42-6UI?usp=sharing
Komentar
Posting Komentar